Briket Biomassa untuk Industri: Manfaat dan Cara Memilihnya

Apa Itu Briket Biomassa?

Briket biomassa adalah bahan bakar padat yang dibuat dengan memadatkan material biomassa menjadi bentuk tertentu sehingga memiliki densitas lebih tinggi dibandingkan bahan baku dalam kondisi curah.

Bahan baku briket dapat berasal dari berbagai sumber, seperti sekam padi, serbuk kayu, tempurung kelapa, limbah pertanian, residu pengolahan kayu, serta campuran beberapa jenis biomassa.

Proses pemadatan atau densifikasi membantu menghasilkan bahan bakar dengan bentuk yang lebih seragam sehingga lebih mudah dalam penyimpanan, transportasi, dan handling. BRMP Pascapanen juga menjelaskan bahwa densifikasi biomassa padi menjadi biobriket dapat meningkatkan karakteristik fisik dan nilai kalor per unit volume sekaligus mempermudah penyimpanan serta pengangkutan. Pascapanen BRMP

Untuk kebutuhan industri, briket biomassa dapat dipertimbangkan sebagai bahan bakar untuk boiler, furnace, dryer, biomass burner, dan peralatan thermal lainnya apabila karakteristik bahan bakar sesuai dengan desain sistem pembakaran.

Briket Biomassa sebagai Bahan Bakar Industri

Industri membutuhkan pasokan energi thermal yang stabil untuk menjalankan berbagai proses produksi.

Steam boiler, misalnya, dapat digunakan untuk menghasilkan uap yang kemudian dimanfaatkan untuk pemanasan, pengeringan, pencucian, sterilisasi, atau berbagai proses lainnya.

Briket biomassa dapat menjadi salah satu alternatif bahan bakar padat untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Namun, istilah briket biomassa mencakup banyak jenis produk dengan karakteristik yang berbeda.

Briket dari sekam padi tidak otomatis memiliki spesifikasi yang sama dengan briket serbuk kayu. Begitu pula briket nonkarbonisasi tidak memiliki karakteristik identik dengan charcoal briquette atau briket yang telah melalui proses karbonisasi.

Karena itu, pembeli industri sebaiknya mengevaluasi produk berdasarkan data teknis, bukan hanya berdasarkan nama bahan baku.

Jenis Bahan Baku Briket Biomassa

Briket dapat dibuat dari berbagai jenis biomassa.

Beberapa bahan baku yang umum digunakan atau dikembangkan antara lain:

  1. Sekam padi.
  2. Serbuk gergaji.
  3. Limbah kayu.
  4. Tempurung kelapa.
  5. Jerami.
  6. Tongkol jagung.
  7. Ampas tebu.
  8. Residu pertanian.
  9. Residu perkebunan.
  10. Campuran beberapa jenis biomassa.

ISO 17225-1:2021 memberikan kerangka umum klasifikasi dan spesifikasi bahan bakar biomassa padat yang berasal antara lain dari sektor kehutanan, pertanian, hortikultura, dan sumber biomassa lainnya. ISO

Untuk briket non-kayu, terdapat pula ISO 17225-7:2021 yang membahas kelas mutu dan spesifikasi graded non-woody briquettes yang berasal antara lain dari herbaceous biomass, fruit biomass, serta campuran biomassa. ISO

Briket Kayu dan Briket Non-Kayu

Secara umum, briket biomassa dapat dibedakan menjadi produk berbasis kayu dan non-kayu.

Briket Kayu

Briket kayu dibuat dari material seperti serbuk gergaji dan residu industri pengolahan kayu.

ISO 17225-3:2021 secara khusus menetapkan kelas mutu dan spesifikasi untuk graded wood briquettes dari sumber kayu tertentu. ISO

Produk berbasis kayu umumnya memiliki karakteristik abu yang berbeda dibandingkan biomassa pertanian.

Briket Non-Kayu

Briket non-kayu dapat menggunakan sekam padi, jerami, residu pertanian, biomassa buah, atau campuran berbagai biomassa.

Karakteristik mineral pada bahan baku pertanian dapat menghasilkan kadar dan perilaku abu yang berbeda dibandingkan briket kayu.

Oleh sebab itu, spesifikasi bahan bakar perlu disesuaikan dengan kemampuan boiler atau furnace yang digunakan.

Carbonized dan Non-Carbonized Biomass Briquette

Briket biomassa juga dapat dibedakan berdasarkan apakah bahan bakunya melalui proses karbonisasi.

Non-Carbonized Briquette

Pada produk nonkarbonisasi, biomassa pada dasarnya dikeringkan, diproses hingga ukuran tertentu, kemudian dipadatkan menjadi briket.

Karakteristik asli biomassa masih relatif banyak dipertahankan.

Carbonized Briquette

Pada briket karbonisasi, biomassa dipanaskan terlebih dahulu melalui proses karbonisasi untuk menghasilkan arang sebelum material dibentuk menjadi briket.

Proses tersebut dapat mengubah:

  • fixed carbon,
  • volatile matter,
  • kadar air,
  • kadar abu,
  • nilai kalor,
  • serta pola pembakaran.

Karena itu, perusahaan sebaiknya memastikan apakah produk yang ditawarkan merupakan carbonized atau non-carbonized briquette.

Manfaat Briket Biomassa untuk Industri

Penggunaan briket biomassa dapat menawarkan beberapa manfaat, tergantung jenis produk, lokasi fasilitas, dan sistem pembakaran.

1. Memanfaatkan Sumber Biomassa

Briket dapat mengubah residu biomassa menjadi bahan bakar yang lebih mudah ditangani.

Sekam padi, misalnya, merupakan hasil samping penggilingan padi yang dapat diproses menjadi bahan bakar melalui densifikasi. BRMP mencantumkan biobriket dari biomassa padi sebagai produk yang dapat digunakan untuk kebutuhan energi rumah tangga maupun industri. Pascapanen BRMP

Pengolahan tersebut memberikan alternatif pemanfaatan terhadap material yang sebelumnya mungkin memiliki nilai penggunaan terbatas.

2. Densitas Lebih Tinggi daripada Biomassa Curah

Salah satu manfaat utama proses briquetting adalah densifikasi.

Biomassa seperti sekam, serbuk kayu, dan residu pertanian dalam kondisi curah dapat membutuhkan volume penyimpanan yang besar.

Setelah dipadatkan, jumlah material yang dapat disimpan dalam volume tertentu meningkat.

Hal ini dapat membantu efisiensi:

  1. Penyimpanan.
  2. Pengangkutan.
  3. Loading.
  4. Unloading.
  5. Inventory management.

BRMP juga menyebut kemudahan penyimpanan dan transportasi sebagai salah satu keunggulan densifikasi biomassa menjadi briket. Pascapanen BRMP

3. Bentuk Lebih Seragam

Bahan baku biomassa dalam kondisi curah dapat memiliki ukuran dan bentuk yang tidak konsisten.

Proses briquetting menghasilkan produk dengan dimensi yang lebih terkontrol.

Keseragaman ini dapat membantu sistem handling dan feeding, terutama jika boiler menggunakan conveyor atau hopper.

Namun, dimensi aktual tetap perlu disesuaikan dengan peralatan pelanggan.

Briket yang terlalu besar untuk feeder dapat menyebabkan masalah walaupun kualitas energinya baik.

4. Lebih Praktis untuk Transportasi

Transportasi merupakan salah satu komponen penting dalam biaya biomassa.

Produk dengan densitas rendah dapat menyebabkan kendaraan mengangkut volume besar tetapi berat relatif sedikit.

Densifikasi berpotensi meningkatkan efisiensi logistik karena lebih banyak biomassa dapat dikemas dalam ruang tertentu.

Manfaat tersebut menjadi semakin relevan jika jarak antara supplier dan pabrik cukup jauh.

5. Dapat Digunakan untuk Berbagai Proses Thermal

Dengan sistem pembakaran yang sesuai, briket biomassa dapat dipertimbangkan untuk:

  1. Steam boiler.
  2. Hot-water boiler.
  3. Furnace tertentu.
  4. Biomass burner.
  5. Dryer.
  6. Proses pengeringan.
  7. Pemanasan proses.
  8. Thermal-oil system tertentu.
  9. Pengolahan makanan.
  10. Pengolahan hasil pertanian.
  11. Industri kayu.
  12. Proses industri yang membutuhkan panas.

Kesesuaian tetap harus ditentukan berdasarkan spesifikasi mesin.

6. Potensi Pasokan dari Sumber Lokal

Biomassa dapat tersedia dekat dengan pusat produksi bahan bakunya.

Briket sekam padi, misalnya, berpotensi dikembangkan di wilayah dengan aktivitas penggilingan padi.

Briket serbuk kayu dapat lebih mudah diperoleh di sekitar sentra pengolahan kayu.

Kedekatan antara sumber bahan baku, fasilitas produksi briket, dan pengguna industri dapat membantu menekan biaya transportasi.

Karena itu, evaluasi supplier sebaiknya memasukkan delivered cost, bukan hanya harga dari lokasi produksi.

7. Mempermudah Pengaturan Persediaan

Bentuk produk yang lebih seragam mempermudah pencatatan penggunaan berdasarkan berat.

Perusahaan dapat menghitung:

  • kebutuhan per hari,
  • kebutuhan per minggu,
  • konsumsi per jam,
  • safety stock,
  • serta kebutuhan bulanan.

Data tersebut dapat membantu purchasing menentukan jadwal pengadaan yang lebih stabil.

Spesifikasi Briket Biomassa yang Perlu Diperhatikan

Salah satu kesalahan dalam memilih briket adalah hanya menanyakan:

“Berapa harganya per ton?”

Sebelum membandingkan harga, pembeli perlu mengetahui spesifikasinya.

Beberapa parameter utama meliputi:

  1. Calorific value.
  2. Moisture content.
  3. Ash content.
  4. Volatile matter.
  5. Fixed carbon.
  6. Density.
  7. Ukuran.
  8. Mechanical durability.
  9. Fines.
  10. Komposisi bahan baku.

Nilai Kalor atau Calorific Value

Nilai kalor menunjukkan energi yang dapat dihasilkan oleh bahan bakar.

Semakin tinggi nilai kalor, semakin banyak energi yang secara teoritis tersedia dari setiap kilogram produk.

Namun, nilai kalor perlu diperiksa bersama dengan basis pelaporannya.

Supplier dapat mencantumkan:

  • Gross Calorific Value atau GCV,
  • Net Calorific Value atau NCV,
  • as-received basis,
  • dry basis,
  • atau basis lainnya.

Dua angka yang dilaporkan menggunakan basis berbeda tidak sebaiknya dibandingkan secara langsung.

Kadar Air atau Moisture Content

Kadar air memengaruhi energi yang dapat digunakan dalam proses pembakaran.

Air di dalam briket perlu dipanaskan dan diuapkan. Semakin tinggi kadar air, semakin banyak energi pembakaran yang digunakan untuk proses tersebut.

Review literatur tentang produksi briket juga menunjukkan bahwa moisture berpengaruh terhadap kualitas fisik briket; kadar air terlalu tinggi dapat menghasilkan briket yang lebih rapuh atau berdensitas lebih rendah dan menimbulkan masalah handling maupun pembakaran. MDPI

Selain spesifikasi saat produksi, kondisi gudang dan transportasi juga penting karena bahan bakar biomassa dapat menyerap kelembapan apabila tidak terlindungi dengan baik.

Kadar Abu atau Ash Content

Ash merupakan mineral yang tertinggal setelah proses pembakaran.

Kadar abu berpengaruh terhadap:

  1. Frekuensi pembersihan.
  2. Kapasitas ash handling.
  3. Jumlah residu.
  4. Maintenance.
  5. Pengelolaan limbah pembakaran.
  6. Potensi deposit pada kondisi tertentu.

Briket berbasis biomassa pertanian dapat mempunyai karakteristik abu yang berbeda dari briket berbasis kayu.

Review mengenai produksi briket menunjukkan bahwa kandungan abu sangat dipengaruhi jenis bahan baku dan komposisinya, dan biomassa herbaceous dapat memiliki kadar abu lebih tinggi daripada bahan bakar kayu tertentu. MDPI

Karena itu, pembeli sebaiknya meminta data aktual untuk setiap produk.

Volatile Matter

Volatile matter merupakan komponen yang dilepaskan ketika bahan bakar dipanaskan pada kondisi tertentu.

Parameter tersebut dapat memengaruhi karakteristik ignition dan pembentukan flame.

Produk dengan volatile matter berbeda dapat memerlukan kondisi pembakaran yang berbeda.

Untuk evaluasi lengkap, volatile matter dapat diperiksa bersama fixed carbon.

Fixed Carbon

Fixed carbon menggambarkan fraksi karbon padat yang tersisa setelah volatile matter diperhitungkan.

Parameter ini sering menjadi salah satu bagian dari proximate analysis.

Pada briket karbonisasi, informasi fixed carbon dapat menjadi semakin relevan untuk memahami karakteristik pembakaran.

Density

Density berpengaruh terhadap jumlah material yang dapat disimpan dalam volume tertentu.

Produk yang lebih padat dapat memberikan keuntungan dari sisi penyimpanan dan transportasi.

Namun, density bukan satu-satunya ukuran kualitas.

Briket tetap harus mempunyai struktur yang cukup kuat dan dapat dibakar secara efektif pada peralatan pelanggan.

Ukuran dan Bentuk Briket

Ukuran bahan bakar harus cocok dengan feeding system.

Briket dapat berbentuk:

  • silinder,
  • hexagonal,
  • persegi,
  • pillow,
  • atau bentuk lain.

Untuk sistem manual, variasi ukuran tertentu mungkin masih dapat ditoleransi.

Pada automatic feeding system, konsistensi dimensi menjadi jauh lebih penting.

Sebelum membeli dalam jumlah besar, perusahaan sebaiknya menyampaikan dimensi bahan bakar yang dapat diterima oleh boiler.

Mechanical Durability dan Fines

Briket harus mampu bertahan selama:

  1. Packaging.
  2. Loading.
  3. Transportasi.
  4. Unloading.
  5. Penyimpanan.
  6. Material handling.
  7. Feeding.

Produk yang terlalu mudah pecah dapat menghasilkan banyak fines atau partikel halus.

Fines yang berlebihan dapat menimbulkan masalah handling dan membuat feeding menjadi kurang konsisten.

Karena itu, kualitas fisik produk juga perlu diperiksa ketika melakukan trial.

Bagaimana Cara Memilih Briket Biomassa untuk Boiler?

Pemilihan bahan bakar harus dimulai dari boiler, bukan hanya dari supplier.

Perusahaan dapat memeriksa:

  1. Jenis boiler.
  2. Kapasitas boiler.
  3. Jenis grate.
  4. Sistem feeding.
  5. Ukuran fuel inlet.
  6. Combustion chamber.
  7. Air supply.
  8. Ash-removal system.
  9. Dust collector.
  10. Sistem pengendalian emisi.

Jika boiler sebelumnya menggunakan bahan bakar berbeda, tim engineering perlu mengevaluasi apakah briket baru dapat digunakan tanpa modifikasi.

Fixed Grate, Moving Grate, dan Feeding System

Setiap sistem pembakaran memiliki karakteristik masing-masing.

Fixed grate dapat memiliki persyaratan fuel size yang berbeda dari moving grate.

Automatic screw feeder memiliki persyaratan yang berbeda dari manual feeding.

Conveyor juga memiliki batas ukuran dan berat tertentu.

Karena itu, produk dengan nilai kalor yang sangat baik belum tentu dapat digunakan apabila ukurannya tidak cocok dengan feeding system.

Jangan Hanya Memilih Berdasarkan Nilai Kalor Tertinggi

Nilai kalor tinggi memang menarik, tetapi bukan satu-satunya penentu biaya operasi.

Misalnya:

Briket A

  • GCV: 5.000 kcal/kg
  • Ash: 18%
  • Harga: Rp3.500/kg

Briket B

  • GCV: 4.600 kcal/kg
  • Ash: 7%
  • Harga: Rp3.200/kg

Produk mana yang lebih baik belum dapat ditentukan hanya dari data tersebut.

Perusahaan masih perlu mengetahui:

  • konsumsi aktual,
  • kondisi ash,
  • performa feeding,
  • efisiensi boiler,
  • maintenance,
  • dan delivered cost.

Karena itu, keputusan akhir sebaiknya didukung trial.

Harga Briket Biomassa untuk Industri

Harga briket dapat berbeda berdasarkan:

  1. Bahan baku.
  2. Nilai kalor.
  3. Moisture.
  4. Ash.
  5. Proses karbonisasi.
  6. Ukuran.
  7. Packaging.
  8. Volume pembelian.
  9. Lokasi supplier.
  10. Lokasi pelanggan.
  11. Frekuensi pengiriman.
  12. Kapasitas supply.

Harga per kilogram atau ton hanya menggambarkan biaya pembelian bahan bakarnya.

Untuk mengetahui apakah produk benar-benar ekonomis, perusahaan sebaiknya menghitung biaya berdasarkan output.

Menghitung Biaya per Ton Steam

Untuk boiler, salah satu pendekatan yang lebih relevan adalah menghitung biaya bahan bakar per ton steam.

Misalnya:

Briket A

Harga: Rp3.000/kg
Konsumsi: 190 kg/ton steam

Biaya:

190 × Rp3.000 = Rp570.000/ton steam

Briket B

Harga: Rp3.400/kg
Konsumsi: 160 kg/ton steam

Biaya:

160 × Rp3.400 = Rp544.000/ton steam

Dalam ilustrasi ini, Briket B memiliki harga per kilogram lebih mahal tetapi biaya bahan bakarnya per ton steam lebih rendah.

Angka tersebut hanya contoh matematika. Konsumsi aktual harus diperoleh dari data operasi atau trial.

Hitung Total Cost of Use

Selain biaya bahan bakar, perusahaan juga perlu menghitung:

Fuel Price + Logistics + Handling + Storage + Fuel Consumption + Ash Handling + Maintenance + Downtime

Pendekatan ini memberikan gambaran Total Cost of Use.

Briket yang murah per ton dapat menjadi lebih mahal secara keseluruhan apabila:

  • konsumsinya tinggi,
  • menghasilkan banyak abu,
  • mudah hancur,
  • menyebabkan feeding bermasalah,
  • atau meningkatkan frekuensi cleaning.

Sebaliknya, bahan bakar dengan harga awal sedikit lebih tinggi dapat lebih ekonomis jika performa boiler lebih stabil.

Pentingnya Trial Sebelum Pembelian Besar

Trial merupakan salah satu tahap terpenting dalam memilih bahan bakar biomassa.

Perusahaan dapat membeli sampel atau volume trial sebelum membuat kontrak bulanan.

Parameter yang dapat dicatat meliputi:

  1. Konsumsi kg/jam.
  2. Fuel-to-steam ratio.
  3. Produksi steam.
  4. Steam pressure.
  5. Furnace temperature.
  6. Stabilitas pembakaran.
  7. Kecepatan ignition.
  8. Feeding performance.
  9. Ash generation.
  10. Kondisi abu.
  11. Deposit.
  12. Clinker.
  13. Cleaning frequency.
  14. Operator intervention.
  15. Biaya bahan bakar per ton steam.

Trial sebaiknya dilakukan pada operating load yang representatif.

Certificate of Analysis

Supplier sebaiknya dapat memberikan informasi teknis yang memadai.

Untuk kebutuhan industri, perusahaan dapat meminta Certificate of Analysis atau CoA apabila tersedia.

Data yang dapat diperiksa meliputi:

  1. Gross Calorific Value.
  2. Net Calorific Value.
  3. Moisture.
  4. Ash.
  5. Volatile matter.
  6. Fixed carbon.
  7. Density.
  8. Sulfur apabila diperlukan.
  9. Chlorine apabila diperlukan.
  10. Dimensi produk.

Pembeli juga perlu memastikan apakah data menggunakan as received atau dry basis.

Membandingkan Beberapa Supplier

Tim purchasing dapat membuat tabel seperti berikut:

Parameter Supplier A Supplier B Supplier C
Bahan Baku Data Data Data
GCV CoA CoA CoA
NCV CoA CoA CoA
Moisture CoA CoA CoA
Ash CoA CoA CoA
Density Data Data Data
Ukuran Data Data Data
Harga/Ton Quotation Quotation Quotation
Delivered Cost Quotation Quotation Quotation
Kapasitas/Bulan Data Data Data
Fuel-to-Steam Ratio Trial Trial Trial

Cara tersebut membantu perusahaan membandingkan spesifikasi dan harga secara bersamaan.

Kapasitas Pasokan Supplier

Untuk kebutuhan industri, kualitas produk yang baik perlu didukung kapasitas pasokan yang memadai.

Misalnya perusahaan membutuhkan:

4 ton/hari × 25 hari = 100 ton/bulan.

Supplier perlu mampu memenuhi sekitar 100 ton per bulan apabila menjadi pemasok utama.

Pembeli dapat memeriksa:

  1. Kapasitas produksi harian.
  2. Kapasitas produksi bulanan.
  3. Available capacity.
  4. Ketersediaan bahan baku.
  5. Kapasitas gudang.
  6. Stok rata-rata.
  7. Lead time.
  8. Kapasitas transportasi.
  9. Existing commitment.
  10. Kemampuan kontrak jangka panjang.

Kapasitas mesin 200 ton per bulan belum tentu berarti supplier mempunyai 200 ton per bulan yang tersedia untuk pelanggan baru.

Konsistensi Antar-Batch

Untuk industri, kualitas satu sampel yang baik belum cukup.

Supplier perlu menjaga konsistensi antar-pengiriman.

Perubahan besar pada:

  • moisture,
  • ash,
  • calorific value,
  • density,
  • dimensions,
  • dan mechanical strength

dapat menyebabkan performa boiler berubah.

Kontrak pembelian dapat mencantumkan range spesifikasi yang dapat diterima.

Ketersediaan Bahan Baku

Supplier yang baik juga perlu memiliki akses bahan baku yang stabil.

Untuk briket sekam padi, misalnya, supplier membutuhkan hubungan pasokan dengan rice mill atau sumber sekam lainnya.

Untuk briket kayu, akses ke residu pengolahan kayu menjadi penting.

Supplier yang bergantung pada satu sumber bahan baku dapat memiliki risiko berbeda dari supplier dengan jaringan pasokan lebih luas.

Hal tersebut penting terutama untuk kontrak jangka panjang.

Lokasi Supplier dan Biaya Pengiriman

Biaya transportasi dapat menjadi bagian signifikan dari total harga bahan bakar biomassa.

Karena itu, supplier yang berlokasi dekat dengan pabrik dapat memiliki keuntungan walaupun harga ex-factory sedikit lebih tinggi.

Perusahaan perlu membandingkan:

Ex-Factory Price

Harga dari lokasi produksi atau gudang supplier.

Delivered Price

Harga yang sudah memasukkan pengiriman ke lokasi pelanggan sesuai syarat yang disepakati.

Untuk procurement, delivered price biasanya memberikan gambaran yang lebih berguna.

Packaging

Briket biomassa dapat dikemas menggunakan:

  1. Karung.
  2. Big bag.
  3. Jumbo bag.
  4. Packaging industri lainnya.
  5. Sistem bulk tertentu apabila fasilitas memungkinkan.

Jenis packaging perlu disesuaikan dengan:

  • cara unloading,
  • gudang,
  • forklift,
  • conveyor,
  • feeding system,
  • serta target biaya.

Packaging yang lebih kecil biasanya membutuhkan biaya handling yang lebih besar.

Penyimpanan Briket Biomassa

Briket sebaiknya disimpan dalam kondisi yang terlindung dari hujan dan kelembapan.

Penyimpanan juga perlu memperhatikan prosedur keselamatan bahan bakar padat pada fasilitas.

Beberapa aspek yang perlu diperhatikan:

  1. Gudang tertutup.
  2. Lantai kering.
  3. Ventilasi.
  4. FIFO.
  5. Monitoring inventory.
  6. Akses material handling.
  7. Dust management.
  8. Fire safety.
  9. Safety stock.

Kebutuhan gudang bergantung pada volume konsumsi dan jadwal pengiriman.

Menentukan Safety Stock

Misalnya perusahaan mengonsumsi:

5 ton per hari

dan menetapkan safety stock untuk 4 hari.

Maka stok minimum yang direncanakan sekitar:

5 × 4 = 20 ton.

Jumlah sebenarnya perlu mempertimbangkan lead time supplier, kapasitas gudang, jarak pengiriman, risiko cuaca, dan kemungkinan gangguan transportasi.

Briket Biomassa atau Wood Pellet?

Briket dan wood pellet sama-sama merupakan bahan bakar biomassa hasil densifikasi, tetapi ukuran serta sistem penggunaannya berbeda.

Wood pellet biasanya berukuran lebih kecil dan sangat cocok untuk automatic pellet feeder.

Briket umumnya berukuran lebih besar dan dapat sesuai dengan sistem grate atau feeding tertentu.

Untuk memilih salah satunya, perusahaan perlu membandingkan:

  1. Calorific value.
  2. Ash.
  3. Moisture.
  4. Dimensions.
  5. Feeding compatibility.
  6. Delivered cost.
  7. Supplier capacity.
  8. Fuel-to-steam ratio.

Tidak ada produk yang otomatis lebih baik untuk seluruh pabrik.

Briket Biomassa untuk Boiler Industri

Boiler merupakan salah satu aplikasi utama yang dapat menggunakan biomass briquette apabila sistemnya kompatibel.

Sebelum penggunaan, perusahaan perlu memastikan:

  • grate dapat menerima ukuran produk,
  • feeder mampu mengalirkan bahan bakar,
  • ash system memiliki kapasitas memadai,
  • air-to-fuel ratio dapat dikontrol,
  • serta temperatur furnace sesuai.

Penggantian bahan bakar tanpa evaluasi dapat menyebabkan boiler tidak beroperasi secara optimal.

Cara Memilih Briket Biomassa yang Tepat

Pemilihan dapat dilakukan melalui beberapa tahap.

Tahap 1 – Tentukan Kebutuhan Boiler

Catat:

  • jenis boiler,
  • kapasitas,
  • steam pressure,
  • grate,
  • feeder,
  • fuel size,
  • jam operasi.

Tahap 2 – Tentukan Target Spesifikasi

Tentukan:

  • minimum calorific value,
  • maximum moisture,
  • maximum ash,
  • ukuran,
  • density,
  • jenis bahan baku.

Tahap 3 – Evaluasi Supplier

Periksa:

  • CoA,
  • kapasitas produksi,
  • kapasitas supply,
  • sumber bahan baku,
  • lokasi,
  • lead time.

Tahap 4 – Minta Sampel

Lakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium bila diperlukan.

Tahap 5 – Boiler Trial

Uji performa di fasilitas aktual.

Tahap 6 – Hitung Total Cost

Hitung:

  • Rp/ton steam,
  • handling,
  • ash,
  • maintenance,
  • logistics,
  • downtime.

Tahap 7 – Tentukan Kontrak

Tetapkan spesifikasi, volume, jadwal pengiriman, dan quality-control procedure.

Informasi yang Perlu Diminta kepada Supplier

Sebelum melakukan pembelian rutin, perusahaan sebaiknya meminta:

  1. Jenis bahan baku.
  2. Carbonized atau non-carbonized.
  3. GCV.
  4. NCV apabila tersedia.
  5. Moisture content.
  6. Ash content.
  7. Volatile matter.
  8. Fixed carbon.
  9. Density.
  10. Ukuran.
  11. Mechanical durability apabila tersedia.
  12. Binder apabila digunakan.
  13. Certificate of Analysis.
  14. Kapasitas produksi.
  15. Kapasitas pasokan bulanan.
  16. MOQ.
  17. Packaging.
  18. Lead time.
  19. Harga ex-factory.
  20. Delivered price.
  21. Ketersediaan sampel.
  22. Ketersediaan trial.

Informasi tersebut membantu purchasing, engineering, production, dan quality control melakukan evaluasi bersama.

Briket Biomassa Mana yang Paling Cocok untuk Industri?

Tidak ada satu jenis briket yang paling cocok untuk seluruh industri.

Briket yang tepat adalah bahan bakar yang mampu memenuhi kombinasi antara:

kompatibilitas boiler + spesifikasi teknis + kontinuitas pasokan + harga delivered + total biaya penggunaan.

Produk dengan nilai kalor tertinggi belum tentu paling ekonomis.

Produk dengan harga paling murah juga belum tentu menghasilkan biaya produksi terendah.

Untuk kebutuhan industri, keputusan terbaik biasanya diperoleh melalui kombinasi data laboratorium, kemampuan supplier, trial boiler, dan analisis biaya aktual.

Hubungi Biruni Consulting

Biruni Consulting dapat membantu perusahaan yang membutuhkan informasi dan pendampingan terkait kebutuhan produk, dokumen, serta proses kepatuhan yang berkaitan dengan kegiatan impor, pemasaran, atau penggunaan produk sesuai kebutuhan bisnis di Indonesia.

Layanan yang dapat dibantu meliputi:

  1. Konsultasi persyaratan produk untuk kebutuhan industri.
  2. Assessment awal terkait spesifikasi dan penggunaan produk.
  3. Review dokumen teknis produk.
  4. Review spesifikasi dan informasi produk.
  5. Konsultasi persyaratan regulasi yang berlaku sesuai jenis produk dan kegiatan usaha.
  6. Pendampingan persiapan dokumen yang diperlukan.
  7. Konsultasi proses sertifikasi atau perizinan apabila diwajibkan berdasarkan karakteristik produk dan penggunaannya.

Hubungi Biruni Consulting untuk mendapatkan informasi mengenai persyaratan produk, dokumen, sertifikasi, dan kebutuhan kepatuhan untuk mendukung kegiatan bisnis dan pemasaran produk di Indonesia.

Business Consultant

    We have extensive and in-depth knowledge of businesschallenges in Indonesia, and coupled with the experience of our expert consultants in dealing with global and national brands and institutions, makes us the viable partner for you.

    Add Your Comments

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *